Sejarah Dinar dan Dirham

cropped-gold_dinar_444_01.jpg

Bismillahirrahmanirrahim. Sejarah awal perjalanan kembalinya dinar dan dirham pertamakali di Indonesia dan dunia tidak bisa dilepaskan dari peran Islamic Mint Nusantara yang di mulai pertamakali tahun 1999. IMN mencetak dan mensosialisasikan dinar dan dirham tiada henti kepada berbagai kalangan masyarakat luas di Indonesia hingga hari ini, hasilnya sudah banyak kalangan yang mulai mengikuti dan terlibat untuk turut serta mendukungnya. Sejak IMN melakukan pencetakan masal terhadap koin dinar dan dirham pada tahun 2000 maka hal tersebut telah menjadi pendorong dikenalnya gerakan dinar dan dirham secara luas di tingkat wilayah Asia Tenggara dan dunia. 

Pada tahun 2007 IMN-World Islamic Standard merintis pencetakan dinar dan dirham mandiri pertama di Indonesia, yang bertujuan melayani umat agar memudahkan mendapatkan dinar dan dirham, IMN adalah badan wakaf yang juga aktif aktif memperkenalkan kembali model muamalah Islam seperti membentuk pertamakali model distribusi dinar dan dirham (wakala), memperkenalkan kembali model pasar dan paguyuban (wakaf), restorasi model baitulmal, kafilah dagang, paguyuban, dan restorasi pelaksanaan zakat ditarik kembali dengan dinar dan dirham (murni). Semua bangunan muamalah ini sebetulnya sudah ada dalam warisan budaya kita muslim di Nusantara dan juga ditulis atau tercatat dalam berbagai literatur kitab kuning yang ada di pesantren tradisional di Nusantara. Kami memanggil semua muslim Nusantara untuk bersatu terlibat secara langsung dalam mengamalkan kembali nilai-nilai luhur tersebut seperti yang sudah kami kami sebutkan di atas, mengembalikan muamalah kita tanpa sistem riba atau praktek riba. #dinardirham #islamhapusriba

Pembahasan mitsqal, sejarah dinar dan dirham dan fikih Islam terkait hal fikih zakat mal untuk emas dan perak ini merupakan penjelasan dari Fatwa Islamic Mint Nusantara yang dikeluarkan pada bulan Januari 2010. Yang akan kami jelaskan berikut ini.

Dinar Dan Dirham Dalam Sejarah Islam
Jauh sebelum kenabian, penduduk Makkah telah biasa berniaga dengan berbagai negeri dan dari berbagai tempat, disebutkan dalam surat Qurais. Makkah adalah pusat transit perdagangan dan terhubung antara jalur sutera laut dan jalur sutera darat sejak berabad-abad. Oleh karena itu mereka telah mengenal timbangan seperti ratl, uqiyah, nasy, nawah, mitsqal, danaq, qirath dan habbah. Uang yang digunakan adalah uang emas dan uang perak atau dikenal dengan sebutan dinar dan dirham. Bahkan Imam Suyuthi dalam Kitab Ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur mengutip sebuah riwayat yang menyatakan bahwa manusia pertama yang menggunakan dinar dan dirham adalah Nabi Adam AS. (Jilid I hal.326) yang disusun oleh Imam Jalaluddin Suyuthi mengatakan, (dikeluarkan oleh Ibn Abi Syuibah dalam Kitab Al-Mushonnaf).

Uang dalam terminologi Islam merupakan alat barter, tolok ukur, sarana perlindungan kekayaan dan alat pembayaran hutang dan pembayaran tunai. Perniagaan dan pasar ataupun muamalah secara luas yang kuat bersandar kepada uang yang kuat. Dalam hal ini uang yang dimaksud adalah emas dan perak atau dalam Islam dikenal dengan sebutan dinar dan dirham yang murni.

Hakikat uang secara umum merujuk kepada pendapat fuqaha tradisional yang menyatakan uang adalah dinar dan dirham, mereka berpendapat Allah menciptakan emas dan perak untuk menjadi dua mata uang yang dapat dijadikan tolok ukur nilai. Iman Al Ghazali berkata tentang emas dan perak, “Di antara nikmat Allah Ta’ala adalah penciptaan dinar dan dirham, dan dengan keduanya tegaklah dunia. Keduanya adalah batu yang tiada manfaat dalam jenisnya, tapi manusia sangat membutuhkan kepada keduanya”.

Ibn Qudamah berkata, “Sesungguhnya harga emas dan perak adalah nilai harta dan modal dagang, yang dengan itu terjadilah mudharabah dan syirkah, dan ia diciptkan untuk itu. Maka disebabkan keasliannya dan penciptaannya terjadilah perdagangan yang dipersiapkan untuknya”.

Kekuatan uang bersandar kepada pasar dan perdagangan bebas riba, dan sebaliknya pasar dan perdagangan yang kuat bersandar kepada uang yang kuat, sehingga Islam menetapkan kaidah-kaidah keuangan yang menjamin interaksi perdagangan dan pasar yang bebas dari berbagai praktek riba seperti penimbunan, monopoli, manipulasi, kecurangan timbangan, penipuan, spekulasi dan berbagai bentuk ketidak adilan dalam jual beli. Sesungguhnya nilai dinar dan dirham adalah nilai harta dan modal dagang ygang dengan itu terjadilah mudharabah dan syarikah dan kedua logam ini diciptakan untuk hal itu. Maka disebabkan keasliannya dan penciptaan emas dan perak terjadilah perdagangan yang dipersiapkan untuknya. Islam merlarang cara apapun yang berdampak mudharat terhadap uang, walaupun terjadi perubahan waktu dan tempat.

Orang yang tidak yakin kepada Allah menjadikan fulus sebagai uang adalah bid’ah yang mereka ada-adakan dan kerusakan yang mereka ciptakan tidak ada dasarnya sama sekali dalam ajaran Nabi, dan dalam menjalankannya tidak bersandarkan pada sistem syariah. Membuat uang dari selain emas dan perak adalah yang menjadikan rusaknya segala urusan, kehancuran segala keadaan, dan menyebabkan manusia kepada ketiadaan dan kebinasaan. Dengan Merusak nilai uang (mengganti kepada selain emas dan perak) merugikan orang yang memiliki hak, mahalnya harga, terputusnya suplai dan bentuk-bentuk kerusakan yang lain.

Al Maqrizi mengatakan, “Sesungguhnya uang yang menjadi harga barang-barang yang dijual dan nilai pekerjaan adalah hanya emas dan perak saja. Tidak diketahui dalam riwayat yang shahih dan yang lemah dari umat yang manapun dan kelompok manusia manapun, bahwa mereka dalam masa lalu dan masa kini selalau menggunakan uang selain keduanya, dinar dan dirham”.

Sebelum masa Islam datang, orang arab, bangsa Quraisy telah memiliki hubungan dagang dengan beberapa negara tetangga. Meskipun demikian, mereka tidak memiliki mata uang sendiri yang dicetak, dimana uang emas berasal dari Romawi dan uang perak berasal dari Persia, dan hanya sedikit dirham yang berasal dari Yaman.

Kemudian pada masa Islam, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menetapkan dinar dan dirham sebagai mata uang yang sah dalam perdagangan atau perniagaan (uang sunnah). Adalah Arqam ibn Abi Arqam, sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang ahli menempa emas dan perak membantu beliau dalam penetapan timbangan.

Sanad pencetakan (dan mitsqal)  tidak pernah terputus dari masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam hingga hari ini, dan sanad tersebut bukan di ambil dari buku. Dengan adanya sanad tersebut ilmupun menjadi terjaga, Ibnu Mubarak berkata, “Isnad termasuk agama, tanpa isnad orang akan berkata sekehendaknya.” Sufyan Ats-Tsaury mengatakan, “Sanad adalah senjatanya orang mukmin.”

Adapun para sahabat nabi Muhammad yang ahli di bidang mencetak dinar dan dirham adalah:

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
2. Umar bin Khattab
3. Utsman bin Affan
4. Ali bin ABi Thalib
5. Abdurrahman bin ‘Auf
6. Sa`d bin Abî Waqâs
7. Arqam bin Abil Arqam
8. Thalhah bin Ubaidillah
9. Zubair bin Awwam

Diriwayatkan oleh Baladzuriy dari ‘Abdulllah bin Tsa’labah bin Sha’ir: “Dinar Hiraklius (Romawi) dan Dirham Persia biasa digunakan oleh penduduk Makkah pada masa Jahiliyah. Mereka sudah mengetahui timbangan mitsqal. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menetapkan hal itu. Begitu pula Abubakar meneruskannya, juga ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Saat itu kaum muslim telah menggunakan dinar Hiraklius dan dirham Kisra pada masa Rasulullah Abubakar dan pada permulaan masa ‘Umar. Pada masa ‘Umar (*sekitar tahun 642-651M), beliau mencetak dirham yang baru berdasarkan dirham Sasanid di mana bentuknya mengacu kepada dirham Kisra, gambarnya bermotif Bahlawiyah dengan ditambahkan tulisan Arab kufi, dengan nama Allah dan dengan nama Allah Tuhanku

Al Qur’an menyebutkan uang dinar sudah digunakan oleh Kaum Ahli Kitab sebelum Nabi Muhammad (Al Quran, Ali ‘Imran 75). Demikian pula uang dirham telah dipakai pada masa Nabi Yusuf (Al Quran, Yusuf 20).

Rasululllah shalallahu alaihi wassalam menetapkan timbangan dinar sama dengan satu mitsqal dan setiap 10 (sepuluh) dirham itu 7 (tujuh) mitsqal. ‘Umar bin Khattab menselaraskan pelbagai berat drachma menjadi dirham syar’i (yaitu 6 dawaniq) sesuai timbangan Makkah pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam

Pada tahun 682M gubernur Iraq (Mush’ab ibn Az- Zubayr) mencetak dinar. Dan dua tahun kemudian, 684M, Abdul Malik ibn Marwan, Khalifah Bani Umayyah di Damaskus mencetak dinar dengan berat 4,4 gram sesuai timbangan mitsqal (seberat 72 butir gandum). Pada tahun 695 M berat dinarnya dikurangi oleh Hajjaj ibn Yusuf (Gubernur Iraq) menjadi 4,2 gram (seberat 65-66 butir gandum) dan melakukan reformasi keuangan. Namun kemudian dikoreksi kembali oleh Khalifah Harun Al Rasyid karena tidak sesuai timbangan (wazan) yang ditetapkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, yaitu mitsqal.

Hal ini diperkuat juga dengan pernyataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa dirham buatan Khalifah Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang, maka perbandingannya bukan 7/10 mitsqal tetapi 7/10.5 mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65), ini artinya 7 mitsqal = 10,5 x 2.97 gram = 31.1 gr atau 1 troy ounce, artinya berat 1 Dirham adalah 3.11 gram. Dari sini kita dapat tentukan 1 Dinar adalah 31.1 : 7 = 4.44285 gram.

Dinar yang beredar di negeri-negeri muslim berada dalam rentang mitsqal 4.4 – 4.55 gram. Berbagai jenis dinar dapat kita lihat di dalam buku Coinage Of Islam.

Pada masa Kekhalifahan Turki Utsmani ditemukan juga sistem perdagangan menggunakan dinar dan dirham beberapa catatan perniagaan Kesultanan Turki Utsmani mempunyai perdagangan yang kuat dan menjalin hubungan dagang dengan berbagai negara di Eropa, India, Yaman, Cina dan lain lain. Dan dalam sejarah perdagangan Kekhalifahan Turki Utsmani beredar berbagai jenis uang emas dan perak seperti Ducat emas, Gulden emas dan perak, Florin emas, dan Cruzados. Kekhalifahan Turki mencetak koin emas yang disebut Khurus dan koin perak yang disebut Akche (Acke) atau dirhem. Timbangan dan berat yang umum pada saat itu digunakan yaitu ratl, okka, ukiya dan kirat.

Dan dari hal ini diketahui berat dirham dimasa itu, yaitu rata-rata antara 3.0898 – 3.207 gram. seperti yang di jelaskan di bawah ini:

• Dirham atau Dirhem atau Akche (Acke) = 16 kirat = 64 dang = 3.207 gram.
• Dirham Bizantium dan awal Islam = 3.125 gr.
• Dirham menurut shariah dan kanonikal = 3.125 gram.
• Dirham di Kairo = 3.0898 gram.
• Dirham di Dimishki = 3.086 gram.
• Dirham di Tabriz = 3.072 gram.

Hal yang menjadi dasar utam dari kita semua kembali mengamalkan dinar dan dirham adalah kepada keimanan dan ketakwaan, bukan yang lain, karena ini bagian dari perintah Allah yang merupakan urusan akidah Islam dan berkaitan erat dengan salah satu rukun Islam yaitu tiang zakat maal, dimana semua 4 Ulama Madhab menyatakan bahwa zakat maal harus ditarik sebanyak 20 Mitsqal untuk Zakat Emas dan 200 Dirham untuk Zakat Perak, dan kesemuanya dihitung bahan emas dan perak murni[1]

Imam Hanafi mengatakan tentang hal ini:
“Bahwa ukuran Nisab Zakat yang disepakati ulama’ bagi emas adalah 20 Mitsqal, dan telah mencapai haul (1 tahun) dan bagi perak adalah 200 dirham”[2]

Imam Asy-Syafi’I berkata dalam Kitab Al-Umm, Volume 2:
“Rabi’ meriwayatkan bahwasanya Imam Asy-Syafi’I berkata: Tidak ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) bahwasanya Dalam Zakat Emas itu adalah 20 Mitsqal (Dinar)”.[3]

Penggunaan dinar dan dirham sebenarnya sudah terjadi sekian lama, jauh sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lahir, yaitu yang pertama kali menggunakan dinar dan dirham adalah Nabi Adam alaihis salam, dapat di lihat dalam Tafsir ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur (Vol. I hal, 326) yang disusun oleh Imam Jalaluddin Suyuthi mengatakan, (dikeluarkan oleh Ibn Abi Syuibah dalam Kitab Al-Mushonnaf). Pada masa Nabi Idris ‘alaihis salam, 9000 tahun Sebelum Masehi, sebagai Rasul Ke-2 yang pertama kali hidup menetap, mengenal tambang emas dan perak, dan mengolahnya menjadi sebuah mata uang yang diberi nama raqim [4] untuk mata uang emas, dan wariq [5] untuk mata uang perak.

Sejarah mata uang raqim dan wariq ini, berlangsung cukup lama mulai dari periode Nabi Idris [6], dilanjutkan ke periode Nabi Nuh, ke periode Hud, ke periode Nabi Sholih, ke periode Nabi Dzulqarnain, ke periode Ashabulkahfi, ke periode Nabi Ibrahim, ke periode Nabi Luth, ke periode Nabi Isma’il dan ke periode Nabi Ishaq. Peristiwa penting ini secara implisit dijelaskan dalam Al-Qur’an di 403 ayat dalam Al-Qur’an.[7]

Penamaan Dinar sebagai mata uang emas, dan Dirham sebagai mata uang perak, baru terjadi Periode Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf. Hal ini termaktub dalam Surah Ali-Imran (3): 75, [8] dan Surah Yusuf 12: 20.[9]

Standarisasi ukuran dinar dan dirham pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sama dengan ukuran raqim dan wariq pada masa Nabi Idris sampai Nabi Ishaq, dan sama pula ukurannya dengan dinar dan dirham pada masa Nabi Ya’qub sampai Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. Ukuran ini adalah ukuran yang telah disepakati oleh Jumhur Ulama’. Yaitu: nisab zakat harta yang harus ditarik sebanyak 20 Dinar untuk Zakat Emas dan 200 Dirham untuk Zakat Perak.[10]

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, menerapkan kaidah timbangan dinar dan dirham ini sesuai dengan “(berat) 7 dinar harus setara dengan (berat) 10 dirham”. Sunnah dinar dan dirham ini kemudian diikuti oleh para Khulafâ’ur Rasyidun yang berlangsung selama 30 tahun, yaitu sejak tahun 11 H sampai 40 H, berlangsung di Madinah yaitu Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib.[11]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa Bani Umayyah, berjalan selama 92 tahun, sejak tahun 40 H sampai 132 H. dengan 14 orang Khalifah yang berpusat di Damaskus. Khalifah-Khalifah itu yaitu: Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Yazid bin Mu’awiyyah, Mu’awiyyah II bin Yazid, Marwan bin Al-Hakam, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul ‘Aziz, Yazid II bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, Walid II bin Yazid, Yazid III bin Walid, Ibrahim bin Walid dan Marwan II bin Ja’diy.[12]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa Bani ‘Abbasiyyah, berjalan selama 518 tahun, sejak tahun 132 H sampai 656 H. dengan 37 orang Khalifah yang berpusat di Baghdad. Khalifah-Khalifah itu yaitu: Abul ‘Abbas As-Saffah, Abu Ja’far Al-Manshur, Mahdi bin Al-Manshur, Hadi bin Mahdi, Harun ar-Rasyid bin Mahdi, Al-Amin bin Harun Ar-Rasyid, Al-Ma’mun bin Harun Ar-Rasyid, Al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid, Al-Watsiq bin Mu’tasyim, Al-Mutawakkil bin Mu’tashim, Al-Mutashir bin Al-Mutawakkil, Al-Musta’in bin Mu’tashim, Al-Mu’tazz bin Mutawakkil, Muhtadi bin Al-Watsiq, Mu’tamid bin Mutawakkil, Mu’tadid bin Al-Muwaffiq, Muktafi bin Mustadhid, Ar-Radhi bin Muqtadir, Al-Muqtaqi bin Muqtadir, Mustaqfi bin Mustaqfi, Al-Mu’thi bin Muqtadir, At-Ta’bin Al-Mu’thi, Al-Qadir bin Ishaq, Al-Qaim bin Al-Qadir, Muqtadi bin Muhammad, Mustazhir bin Muqtadi, Murtashid bin Mustashir, Ar-Rashid bin Murtasyid, al-Muqtafi bin Mu’atshir, Mustanjid bin Muqtafi, Mustadi bin Al-Muqtadi, An-Nashir bin Muatahdi, Az-Zhahir bin An-Nashir, Mustanshir bin Az-Zhahir, Musta’sihim bin Mustansir.[13]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa kerajaan-kerajaan kecil (Mulukut Thawâif), baik di benua Timur maupun di benua Barat (Andalusia) yang masuk menyelusup di masa Bani ‘Abbasiyyah, yaitu dari tahun 321 H sampai 685 H berjalan selama 350 tahun.[14]

Standarisasi dinar dan dirham di atas juga dijaga tradisinya pada masa Turki Utsmani, berjalan selama 666 tahun, sejak tahun 687 H sampai 1343 H (1924 M) dengan 38 orang Sultan yang berpusat di Istanbul (Kontantinopel).[15], Baca juga Muslim Nusantara, Walisongo Dan Kesultanan Turki Ottoman.

Bahkan pada masa Sultan Muhammad II Al-Fatah (Sultan Ke-7 dari Kesultanan Turki Utsmani), tahun 855H/ 1451M, Dinar dan Dirham dibawa oleh Duta Muballigh Islam yang dikenal dengan “Walisongo” melalui perdagangan bersistem Dinar Dirham di Wilayah Nusantara (Asia Tenggara).[16]

Dalam catatan Syekh Muhyiddin Khayyat dalam “Durusut Tarekh Al-Islamiy” Juz V, dan Catatan Jarji Zaidan dalam Tarekh Tamaddun Al-Iskamiy, Juz III, menyebutkan bahwa: Standarisasi Dinar dan Dirham di atas juga dijaga tradisinya di beberapa negara-negara Islam, seperti Kesultanan Umayyah di Adaluzie Eropa, mulai tahun 138 H = 755M sampai 407 H/ 1016 M. Juga diterapkan di Kesultanan Fathimiyyah di Afrika Utara dan Mesir sejak tahun 279 H/ 909 M sampai 567H/ 1171M, juga diterapkan di Kesultanan Ayyubiyyah di Mesir dan Syiria sejak tahun 567H/1171 M sampai 657H/1260 M, juga diterapkan di Kerajaan Geznewiyah di Afghanistan dan India sejak tahun 366 H/976M sampai 579H/1183M. Dan di Kesultanan Mongolia di India sejak tahun 932H/1526M sampai 1274 H/1857M.[17]

Mitsqal, Timbangan Berat Dan Kadar Dinar Dan Dirham Dalam Fikih Islam
Berdasarkan rumus “(berat) 7 Dinar harus setara dengan (berat) 10 Dirham”. Wahyu Allah menyebut emas dan perak serta mengaitkannya dengan berbagai hukum , misalnya zakat, perkawinan, hudud dan lain-lain.

Menurut Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah, Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad Dimasyqi dalam fikih 4 Madzhab, menyatakan bahwa : Berdasarkan wahyu Allah, Emas dan Perak harus nyata dan memiliki ukuran dan penilaian tertentu (untuk zakat dan lainnya) yang mendasari segala ketentuannya, bukan atas sesuatu yang tak berdasarkan syari’ah (kertas dan logam lainnya). Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan Islam dan masa Para Nabi dan Rasul, masa Nabi Muhammad, Khulafa’ur Rasyidun, Sahabat serta tabi’in, tabi’it tabi’in bahwa dirham yang sesuai syari’ah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mitsqal (bobot dinar) emas. Berat 1 mitsqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang bobotnya 7/10-nya setara dengan 50-2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini.[18]

Rujukan di atas adalah salah satu prinsip yang menjadi jalan pembuka untuk kami mengkaji ulang mengenai mitsqal untuk berat dan kadar dinar dan dirham terhadap fikih zakat maal emas dalam hal ini adalah  nishab zakat emas dan perak. Dengan berbagai pertemuan, pembicaraan dan masukan formal dan informal yang kami lakukan baik dengan beberapa kolega kami di Indonesia, Amerika, Afrika Selatan, Malaysia baik secara langsung ataupun tidak langsung, meneliti berbagai literatur sejarah Islam dan dunia dan berbagai catatan dan bukti arkeologi baik langsung dan tidak langsung, maka kami akan mengemukakan beberapa hal penting terkait dengan standar dinar dan dirham terutama terhadap perhitungan nisab zakat emas dan perak di Nusantara dan dunia, yang tentunya hal ini kami niatkan untuk kepada keimanan, ketakwaan dan kelurusan dalam mengamalkan dinar dirham dalam muamalat Islam secara benar dan tepat sesuai dengan syari’at Islam (kitabullah dan sunnah Rasulullah).

Hal lain yang menjadi prinsip dan perhatian dalam menuntun kami sampai kepada  orisinalitas ini adalah, melihat kembali catatan terdahulu dari berbagai sumber kitab Islam yang diketahui bahwa nishab zakat emas adalah 89 (88.8), 91 dan 93 gram kesemuanya dalam emas murni (dzahab khalis), sedangkan nishab zakat emas  85 gram (juga dalam emas murni)  baru muncul dan dikenal kemudian hari yang banyak ditemui dalam buku-buku fikih zakat  kontemporer atau ekonomi Islam, yang menjadi salah satu rujukan fikih zakat kontemporer ini termasuk dalam buku Shaykh Utsaimin dan Dr. Yusuf Qardhawi, yang menyatakan pendapat nishab 85 gram (emas murni), atau dengan kata lain mengambil berat yang teringan (Buku Fikih Islam, Prof Dr. Wahbah Az-Zuhaili), hal ini digunakan untuk mengakomodir ‘fikih’ zakat profesi dari perbankan Islam (zakat profesi sendiri tidak pernah ada dalam Islam). Shaykh Utsaimin dan Dr. Yusuf Qardhawi dan kebanyakan ‘ulama’ kontemporer hari ini menyamakan dinar dan dirham dengan uang kertas, apa yang dilakukan oleh mereka ini bukanlah kehati-hatian dan bukan pula berdasarkan apa yang sudah kami jelaskan di atas.

Memahami Kekeliruan  Mendasar Dari Dinar 4.25 (91.7) atau Tidak Murni
Kekeliruan mendasar yang selama ini terjadi diberbagai buku dikatakan bahwa dinar itu tidak murni, perlu disadari bahwa dinar dan dirham yang di minta dalam ketentuan syariah dinyatakan berbahan murni atau semurni mungkin (dzahab khalis) yang dalam bahasa al Quran disebut kayla (kadar), dan ini tidak ada perubahan dalam hal itu, mengenai hal kemurnian ini yang dikatakan dalam fikih 4 Imam Madhab terkait pelaksanaan penarikan zakat maal untuk emas dan perak. Dan bahwa alasan bahwa emas murni lunak sehingga dibuatlah dinar berbahan campuran (tidak murni), adalah pendapat yang lemah dan semata disandarkan oleh alasan pragmatis dan teknis, ini dibangun dari sebuah pendapat pribadi dan bukanlah terkait hukum Islam. Dapat diketahui dari fakta, bukti sejarah dan arkeologis koin-koin emas murni yang ditemukan telah dapat bertahan hingga 700 tahun bahkan lebih, jadi bukan tiga tahun seperti dalih seorang penggiat dinar dan dirham, silahkan baca penjelasan detail disini Penjelasan Tentang Mengapa Dinar Adalah 24 Karat Bukan 22 Karat.

Mengenai adanya kekhawatiran koin tersebut rusak atau beratnya berkurang itu adalah sesuatu yang alamiah, maka yang justru perlu dilakukan adalah mendukung pencetakan dinar dan dirham mandiri seperti Islamic Mint Nusantara (IMN) yang dapat dibantu dan berjalan atas pembiayaan wakaf dari umat muslim, agar koin-koin yang telah rusak atau aus dan berkurang beratnya karena digunakan dalam muamalah dapat ditarik, dilebur dan diganti dengan yang koin baru.

Penjelasan mengenai kadar berdasarkan perintah zakat maal tersebut adalah yang membedakan dinar dengan koin emas lain, jadi penelitian dan penjelasan ini dibuat bukan karena ingin berbeda tapi untuk mendapati kesempurnaan dalam timbangan (adil) yang terkait dengan muamalah Islam secara luas.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa banyak dinar yang telah beredar saat ini mempunyai berat 4.25 (91.7) atau tidak murni, lalu dimana letak kekeliruannya? secara mendasar kita dapat melihat kekeliruan itu dalam perhitungan nishab zakat maal sebesar 20 dinar, yang akan di jelaskan sebagai berikut:

85 gram : 20 mitsqal= 4.25 gr (dzahab khalis)
Nishab adalah 4.25 gr x 20 = 85 gr (dzahab khalis)

Dalam 1 Dinar 4.25 (91.7) hanya mengandung 3.89 gram emas murni,
nishab adalah 3.89 gram x 20 = 77.8 gram (9999)

Jadi diketahui 20 Dinar (tidak murni) sama dengan 77.8 gram, yang sangat jauh dari fikih zakat kontemporer dengan nishab 85 gram emas (dzahab khalis), apalagi kepada fikih tradisional 89 (88.8), 91 dan 93 gram yang kesmuanya dalam emas murni.

Dari penjelasan di atas menjadi jelas bahwa nishab 85 gram emas murni tidak tercapai dari 20 dinar 4.25 gram berbahan campuran atau tidak murni, artinya jika konsisten mengikuti fikih kontemporer aspek kesempurnaan berat dan kadar terabaikan, karena dinar ini yang dimaksud menurut jumhur Ulama yang adalah emas murni (dzahab khalis) bukan emas campuran ataupun sengaja di campur, tentu hal ini tidak bisa diterima dan tidak bisa diabaikan, dalam praktek perhitungan mitsqal emas campuran bukan lagi menjadi 20 Dinar melainkan menjadi 22 Dinar (tentu kita tidak dapat merubah ketetapan hukum zakat emas sebanyak 20 mitsqal tersebut), artinya jika tetap menggunakan dinar 4.25 (91.7) atau 22 karat maka perhitungannya berat 1 mitsqal menjadi berbeda, yang dapat di jelaskan  berikut:

(24/22) x (85/20)= 4.63 gr (91.7)
nishab emas campuran menjadi 4,63 gr x 20 = 92.6 gr

Sekarang dapat dilihat perbedaan timbangan mitsqal dari 1 Dinar (22K/917) = 4.63 gr dan 1 Dinar (24K/9999) = 4.25 gr jadi kesimpulannya adalah, kalau nishab zakat emas dihitung dalam dengan standar 1 dinar = 4.25 gr (22K) hanya terkandung 77.8 gr emas (murni), dimana ini tidak mencapai nishab zakat mal yang seharusnya adalah 85 gram emas (murni) dalam penetapan fikih zakat kontemporer seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dan mengenai pendapat (pribadi) yang menyatakan dinar 4.25 gram adalah 22 karat (91.7) atau tidak murni menyelisihi dan tidak mengikuti 4 madzhab yang mutabar, dan tentu pendapat ini sangat lemah karena tidak berdasarkan kepada nash-nash syar’i,hanya semata karena alasan teknis dan kepraktisan saja. [19] .

Dalam Catatan sejarah, nishab zakat emas dan perak yang dapat kami temui adalah 89, 91 dan 93 sedangkan nishab zakat 85 gram adalah baru dikenal pada abad 20 yang di dukung oleh pendapat Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin dan Dr Yusuh Qardhawi, Fiqh al-Zakah, jilid I. Sumber nishab zakat 93 gram lihat Ibn Qayyim al Jawziyyah, Zad al Ma’ad fi Hadyi Khayr al’ibad (Makkah: al-Maktabah al-’ilmiyyah) jilid I, hh 147-148. Sumber nishab 89 gram lihat Al Isyadat-us Saniyah fi al ahkam il Fiqiyah, bahagian ke-2 halaman 157). Baca juga Mentaati Perintah Kewajiban Zakat Maal Dengan Yang Murni

Penelitian Dan Timbangan Mitsqal Untuk Nishab Zakat Emas dan Perak Dalam Gram
Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan islam dan masa Para Nabi dan Rasul, masa Nabi Muhammad, Khulafa’ur rasyidun, sahabat-sahabat serta tabiin, tabiit tabiin bahwa dirham yang sesuai syariah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mistqal (dinar) emas. Berat 1 mistqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang nilainya 7/10 setara dengan 50 dan 2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini (IbnuKhaldun dalam Muqaddimah)

Ijma semua madzhab fiih bahwa 1 mitsqal = 1 Dinar. Meskipun demikian banyak otoritas menyelisihi ijma ini sehingga 1 Dinar kurang dari 1 mitsqal. Ibnu Khaldun menulis dalam Al-Muqaddimah “Maka bersepakat banyak sekali fuqaha, berat (dalam bentuk emas) dari Dinar syar’i adalah tujuh-puluh-dua ukuran rata-rata biji gandum sya’ir atau barley dipotong kedua ujungnya” (p. 316)

Dalam beberapa tahun lalu Islamic Mint Nusantara (IMN) telah melakukan penelitian terkait sejarah dinar dan dirham Islam, ada pertanyaan tentang apa yang disebut sebagai standar mitsqal? untuk itu kami melihat dan meneliti kembali mitsqal yang terkait erat dengan standar dinar dan dirham melalui penelusuran berbagai sumber yaitu: al Quran, hadist, fikih, arkeologi, penelitian sejarah Islam dan dunia serta penimbangan langsung 72 bulir gandum (barley) ukurang sedang. Seperti diketahui bahwa penggunaan dinar dan dirham telah dimulai sejak jaman nabi Adam alaihis salam dan menjadi standar keuangan samapai masa Rasululullah shallalahu alaihi wassalam dan Khulafa’ur Rasyidun hingga akhirnya hilang setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani (1924). IMN kemudian berinisiatif untuk berusaha menggali kembali rujukan mitsqal klasik terhadap generasi awal Islam. Oleh karena itu cara terbaik untuk menentukan standar adalah dengan melihat definisi atau penjelasan yang diberikan oleh para pendahulu awal Islam melalui ulama, kitab-kitab klasik Islam, hadist dan al Quran. Memang ada koin-koin yang ditemukan oleh arkeolog atau sekarang tersimpan di dalam museum, tapi tidak dapat diandalkan untuk tujuan ini karena koin tersebut umumnya telah keausan, rusak, berkurang berat atau mungkin terpotong.

Untuk mendapatkan kembali orisininalitas yang paling mendekati mitsqal awal Islam, maka kita perlu melihat kembali ke sumber awal Islam di Madinah, bukan sumber lain. Ibn Khaldun menyatakan bahwa sesuai ijma’ dan ketetapan Umar ibn Khattab RA, 1mitsqal = 72 biji gandum barley (organik) ukuran sedang yang dipotong kedua ujung. Dapat dikatakan bahwa setara dengan berat sekitar 68-69 biji gandum utuh. Akan tetapi ada beberapa catatan yang mengatakan mitsqal di bawah berat 72 biji gandum barley, seperti 68 biji gandum barley ukuran sedang dipotong kedua ujung. Pendapat kedua ini tidak diterima karena sangat tidak populer.

Secara tradisional mengukur berat suatu benda didasarkan pada suatu standar berat suatu benda atau komoditas yang dianggap memiliki berat stabil secara relatif. Metodologi ini juga digunakan untuk menentukan berat dalam mitsqal (tradisional atau sunnah), sebagaimana pula digunakan sebagai standar untuk menghitung berat dalam gram (modern).

Ibn Khaldun dan banyak kitab fikih menetapkan mitsqal berdasarkan berat biji gandumbarley. Dan banyak otoritas, amir, sultan, parameswara, prabu dan lain-lain memerintahkan master minter mereka untuk menimbang kembali berat biji gandum barley untuk menentukan standar mitsqal mereka. Dan mereka akan berkeputusan untuk menyetak sesuai atau tidak sesuai mitsqal tersebut.

Dengan demikian adalah sangat mungkin bagi kita saat ini menimbang biji gandum barley sebagaimana sunnah mengajarkan demikian. Dan dengan demikian pula, merupakan sesat metodologi apabila menentukan berat mitsqal hanya berdasarkan satu koin koleksi museum dan serta merta menjadikannya standar. Belum lagi koleksi yang dimaksud hanya satu dan diklaim tertua (padahal bukan) dengan fakta terdapat berbagai berat berat Dinar yang pernah ada dan beredar di berbagai wilayah negeri-negeri muslim.

Oleh karena itu, secara metodologi atau pendekatan, penimbangan biji gandum barleyadalah metodologi utama, yang niscaya, sebagaimana amal Madinah. Yaitu untuk mengikuti “timbangan penduduk Madinah dan takaran penduduk Makkah”.

Adapun melakukan riset numismatik dari pelbagai koleksi koin, terutama koin-koin tertua adalah metode penunjang. Lebih penting untuk membaca kembali teks-teks fikih salaf (kuno) yang membahas mengenai nisab zakat, pasar, perdagangan, muamalat, uang dan alat pembayaran, juga mengenai mahar nikah, diyat dan lain lain. Karena dinar dan dirham harus berdasarkan syariah Islam bukan berdasarkan pendapat atau bukti numismatik semata. Ini yang menjadi pembeda dinar dan dirham dengan koin-koin numismatik.

Untuk memperkuat penelusuran dan sumber sejarah di atas dan juga terutama berdasarkan juga sumber dari, al Quran, Hadist, tafsir pendapat ulama masyur, fikih 4 Imam Madhab, tafsir, studi literatur, sejarah Islam, metalurgi dan bukti-bukti arkeologis maka kami lebih jauh lagi melakukan penelitian yang seksama mengenai timbangan mitsqal tersebut, karena itu kami telah melakukan penimbangan kembali gandum barley untuk mendapatkan orisinalitas timbangan mitsqal awal untuk kepntingan umum hari ini dalam satuan gram.

Melakukan Kembali Penimbangan Gandum Barley, Sebuah Jalan Mendapatkan Orisinalitas
Dalam mencari, mendekati dan mendapatkan kembali orisinalitas mitsqal dalam satuan hari ini yang dikenal dengan gram ataupun troy ounce, maka kami telah menimbangan gandum barley (organik) berdasarkan tiga hal yang :

1. Berdasarkan Kadar (Kemurniaan)
2. Berdasarkan Berat
3. Nishab Nishab Zakat. (20 mistqal)

Tiga nishab zakat emas yang diketahui dan pernah digunakan adalah 89 gram, 93 gram, sedangkan nishab 85 gram baru dikenal belakangan ini. Konversi ke gram dengan cara penimbangan langsung 72 biji gandum organik (barley) ukuran sedang dan dipotong kedua ujungnya dilakukan pada Hari Sabtu, 12 Shafar 1432H bertepatan 16 Januari 2010, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Penghitungan nishab 89 gram
24 x (89/20) = 106.8 gram (emas murni)
106.8 gram/22 = 4.85 gram (emas campuran)
106.8 gram /22.5 = 4.74 gram (emas campuran)
106.8 gram /23= 4.64 gram (emas campuran)
106.8 gram /24= 4.45 gram (emas murni) –
Di dapatkan timbangan berat rata-rata yang didapat adalah 4.467 gram

Penghitungan nishab 93 gram
24 x (93/20) = 111.6 gram (emas murni)
111.6 gram/22 = 5.07 gram (emas campuran)
111.6 gram /22.5 = 4.96 gram (emas campuran)
111.6 gram/23= 4.85 gram (emas campuran)
111.6 gram/24= 4.65 gram (campuran)

Penghitungan nishab 85 gram
24 x (85/20) = 102 gram (emas murni)
102 gram/22 = 4.63 gram (emas campuran)
102 gram /22.5 = 4.53 gram (emas campuran)
102 gram/23 = 4.43 gram (emas campuran)
102 gram/24 = 4.25 gram (emas murni) –
Didapatkan timbangan terendah adalah 4.377 gram

IMN-World Islamic Standard telah melakukan penimbangan kembali terhadap biji gandum barley untuk menguji satuan mitsqal sebagai satuan unit berat terhadap satuan berat yang menjadi kebiasaan hari ini yaitu gram, dan mendapatkan beberapa hal yang dijadikan landasan dan  perlu diketahui bersama, sebagai berikut:

  1. Dalam beberapa kali penimbangan diperoleh sebaran berat antara 4,377 gram hingga 4,566 g, dan dengan berat rata-rata 4,467 gram terhadap berat nishab zakat 89 gram, 91 gram, 93 gram dan nisab 85 gram baru datang kemudian, semua dalam emas murni.
  2. Berat terendah 4,377 gram didapatkan dengan memotong kedua ujung hingga sedikit merusak gandum tersebut, yang artinya pemotongan ujung dilakukan terlalu berlebihan.
  3. 1 Mitsqal berada pada 4,377 gram hingga 4,566 gram, dengan rata rata berat pada 4,467 gram.
  4. Berat dinar yang ada saat ini 4,25 g merupakan hipotesis yang didasarkan pada koin koleksi Museum Inggris tanpa riset mendalam, berdasarkan otoritas Abdul Malik ibn Marwan (dan dicetak oleh Al-Hajjaj), Khalifah Abdul Malik bin Marwan bukan orang pertama yang mencetak dinar dan dirham dalam sejarah Islam, dengan mengabaikan fakta koin-koin dinar yang ada pada masa sebelum itu. Perlu dicatat bahwa kedua tokoh tersebut tinggal di istana Damaskus, Suriah yang sangat jauh dengan Madinah, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai Amal Madinah.
  5. Berat 4,25 gram seperti disebutkan di atas tidak dapat diperoleh kecuali benar-benar merusak biji gandum barley, meskipun dengan pengeringan yang maksimal. Jika kita melihat berat 1 Dinar = 4,25 gram (mengacu pada koin dinar yang beredar saat ini) tidak mungkin didapat tanpa merusak buliran gandum yang digunakan. Hal itu tidak mungkin dilakukan karena sama sekali tidak sesuai kaidah satuanmitsqal.
  6. Dari hasil penimbangan, didapatkan bahwa berat 72 bulir dipotong kedua ujungnya nilainya mendekati 1/7 Troy Ounce. Hal ini menuntun kepada petunjuk bahwa,

1 Troy Ounce = 7 Mitsqal
7 Mitsqal = 1 Troy Ounce
7 Mitsqal = 31,1034768 gram
1 Mitsqal = 4,443353828571429 gram

Dalam kitab Al-Muqaddimah, Ibn Khaldun menyebutkan bahwa berat 1 dinar = 1 mitsqal, berat 1 mitsqal = berat 72 bulir gandum barley ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya.

Maka perhitungan syar’i konversi berat tradisional mithqal (mitsqal) kepada gram adalah sebagai berikut:

1 mitsqal = 1 dinar. Berat 1 mitsqal = 72 biji gandum dipotong kedua ujungnya = 68-69 biji gandum utuh

Berat 1 mitsqal = 4.443353828571429 gram
, konversi dalam satuan gram dengan cara penghitungan standar 68 biji gandum utuh di dapatkan 4.40632588 gram;

Konversi dalam satuan gram dengan cara penghitungan standar 69 biji gandum utuh didapatkan 4.47112479 gram. Maka Berat 1 mitsqal adalah antara 4.40632588 – 4.47112479 gram

Mengikuti pendapat Al Maqrizi, dalam Ighotsah Imam Maqrizi, beliau mengatakan bahwa 1 mitsqal adalah 22 qirath. Dari pengetahuan umum yang ada 1 qirath = 200 mg, maka 
1 mitsqal = 22 x 200 mg = 4400 mg = 4.4 gram

Dalam beberapa studi literatur mengenai satuan-satuan berat logam mulia yang digunakan pada masa awal kekhalifahan, di dapatkan terminologi troy ounce dan grain.Troy ounce adalah satuan berat yang dikembangkan pertama kali di kota Trojes, Perancis. Troy ounce masyhur digunakan pada logam mulia bahkan hingga sekarang, sebagaimana mitsqal digunakan untuk timbangan khusus emas (murni), berdasarkan fakat sejarah bahwa kedua timbangan logam mulia ini yaitu mitsqal dan troy ounce di dasarkan kepada biji gandum barley.

Grain adalah satuan berat yang menggunakan bulir gandum utuh sebagai elemen penghitungannya, dimana
1 Troy Ounce = 480 grain
1 Grain = 64,79891 milligrams
1 Troy Ounce = 480 x 64.79891 milligrams
1 Troy Ounce = 31,1034768 gram

*lihat Grain (unit) dan berat troy ounce sesuai standard Internasional, antara mitsqal dan troy ounce keduanya menggunakan bulir gandum dalam perumusan timbangannya. Tentunya hal ini mendekati hasil penimbangan sebagaimana dijelaskan pada butir 1 hasil penelitian di atas.

Mitsqal (Mithqal)
Mitsqal secara bahasa adalah satu unit berat (the whole unit) sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (99:7-8). Secara harfiah disebut berat, turunan dari akar kata semitikth-q-l (menimbang) dengan kata depan -mi- dari instrumentasi mithqal yang dibagi atas 24 bagian emas murni. Sumber lain mengatakan mithqal berasal dari bahasa Arab kuno yang berarti berat, satuan timbangan, dari fi’il atau kata kerja (thoqola) yang berarti menimbang, yang kemudian menjadi berat. Dalam bahasa Parsi, juga Urdu, dikenalmithqal. Pengertian secara bahasa istilah ini dapat di lihat dari berbagai literatur metrologi dinar dan dirham. 1 mitsqal adalah 22 qirath dikurangi satu biji atau 21 3/7qirath (22 qirath dikurangi 1 biji yang dipotong kedua ujungnya). Istilah ini berasal dari peradaban Akkadia, siqlu dan kemudian diadaptasi ke seluruh dunia termasuk bahasa Arab dan bahasa Ibrani, istilah ini telah dipakai luas sejak 3,000 SM (Burns, 1927: p.250) Burns merujuk pada Hultsch, Metrologie, p.393.

Mitsqal adalah timbangan khusus untuk emas, dengan demikian adalah unit berat atau satuan timbangan sebagai satuan basis dalam ukuran-ukuran lain, dan diterapkan pada uang emas dan uang perak, sebagai uang komoditas yang telah dipakai berabad-abad. Namun mitsqal sebagai ukuran berat tidak mempertimbangkan bentuk fisik logam, desain muka maupun format.

Mitsqal sebagai unit berat ditetapkan berdasarkan berat biji gandum barley atau yang telah dipergunakan di Arab masa pra Islam maupun Romawi dan Persia hingga datangnya masa Islam. Dalam fikih Islam dan ijma’ dinyatakan bahwa 1 mitsqal adalah 72 biji gandum barley ukuran sedang dipotong kedua ujungnya. (Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah).

Dalam satu catatan menyebutkan bahwa mitsqal tradisional di Timur Tengah mengandung 24 nakhuds. Dalam kehidupan hari ini berat dua puluh empat nakhuds setara dengan empat dan tiga-perlima gram [4 + 3/5 gram atau 4,6 g] (Kitab al-Aqdas).

Al Maqrizi menulis dalam bukunya Ighatsah bahwa mitsqal adalah 21 3/7 qirath (atau 22 dikurangi 1 biji gandum barley). Qirath dikenal sebagai kacang polong (carob). Qirath sebagai satuan berat diterjemahkan ke dalam gram, sesuai berat qirath Arab, yaitu 2% lebih kecil atau ringan dibanding qirath dari Syria (212 mg – 92%) = 207,5 mg.

Perhatikan dengan seksama beberapa jenis qirath di http://en.wikipedia.org/wiki/Carat_(mass). Pada masa-masa kemudian qirath digunakan sebagai kemurnian logam mulia berbasis 24 qirath yang telah disebutkan sebelumnya dan disebut Karat.

Sehingga berdasarkan penjelasan Al Maqrizi maka dapat dihitung berat 1 mitsqal = (21+3/7)*207.5 = 4446.428571428571 mg = 4.446 gram

Ada baiknya kita melihat beberapa catatan mengenai timbangan berat terhadap gram, fakta berasal dari sumber berbagai sumber referensi dan numismatik sebagai pembanding dari penimbangan yang telah dilakukan oleh IMN-World Islamic Standard, yang dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Al Maqriziy menulis bahwa mitsqal adalah 21 3/7 qirath (atau 22 dikurangi 1 biji gandum barley). Qirath sebagai satuan berat diterjemahkan ke dalam gram. Secara umum berat 1 qirath adalah = 200 mg, sedangkan qirath di Mesir adalah 196 mg sedangkan yang ada di Syria beratnya adalah 212 mg, sedangkan di Arab 2% lebih kecil dari qirath Syria jadi beratnya adalah 207.76 mg. (Al-Maqriziy, Ighatsat al-Ummah bi-Kasyf al-Ghummah: Syudzur al-Uqud fii Dzikr al-Nuqud) 1 mitsqal = 21 3/7 x 207.76 mg = 4451.99 mg = 4.451 gram.
  2. Dalam satu catatan menyebutkan bahwa mitsqal tradisional di Timur Tengah mengandung 24 nakhuds. Dalam kehidupan hari ini berat dua puluh empat nakhuds setara dengan empat dan tiga-perlima gram artinya [4 + 3/5 gram atau 4,6 g] (Kitab al-Aqdas).
  3. Penggunaan gram sebagai satuan berat mulai diperkenalkan sekitar tahun 1586 dan menjadi standar pada 20 Mei 1875 (lihat link berikut, http://www.merriam-webster.com/mw/table/metricsy.htm dan http://lamar.colostate.edu/~hillger/) dan diadopsi oleh organisasi ISU (http://www.bipm.org/en/si/) sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:1 gram (g) = 15,4323583529 biji gandum Barley (gram)
  4. 1 biji = 64.79891 mg = 1 biji (gr) = 0.06479891 gram (gram). Selanjutnya lihat konversi unit (http://www.chemie.fu-berlin.de/chemistry/general/units_en.html). Apabila biji gandum barley ukuran sedang dipotong kedua ujung akan mengurangi kurang lebih 5% dari berat biji utuh, sehingga beratnya sekitar 61,713247619047625 mg = 0.061713247619047625 gram. Berdasarkan penjelasan Internasional Metric System maka dapat di hitung berat 1 mitsqal adalah 72 x 0.06171 = 4.44312
  5. Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan bahwa dirham buatan Khalifah Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang, maka perbandingannya bukan 7/10 mitsqal tetapi 7/10.5 mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65), ini artinya 7 mitsqal = 10,5 x 2.97 gram = 31.1 gr atau 1 troy ounce, artinya berat 1 Dirham adalah 3.11 gram. Dari sini kita dapat tentukan 1 Dinar adalah 31.1 : 7 = 4.44285 gram.
  6. Khalifah Abdul Malik bin Marwan menurunkan timbangan mithqal dinar 4.44 gram menjadi 4.25 gram yang diksebut sebagai debasement (pemotongan) dapat dilihat pada catatan kaki dari buku As Sirah an-Nabawiyyah, Shaykh Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, hal 87). Dari penelusuran kami, diketahui bahwa peneliti orientalis (barat) yang menyebut Dinar dari Abdul Malik bin Marwan sebagai ‘standar’ Dinar Islam yang kemudian di ambil pakai oleh berbagai kita tulisan fikih kontemporer Islam (terutama perbankan Islam).
  7. Bank Faisal Islami di Sudan menentukan 1 Dinar adalah 4.457 gram.

Perhitungan Satuan Mitsqal Dan Troy Ounce Terhadap Nishab
Bagaimana melihat hubungan mitsqal dan troy ounce, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Sejarah satuan troy ounce ini diambil dari kota Troyes, Perancis. Di kota Troyes ini dikenal sebagai tempat jual beli emas dan perak, dimana mereka terbiasa menggunakan timbangan apoteker berbasis bulir gandum (grain).
  2. Untuk mengetahui hubungan mitsqal, bulir gandum dan grain, maka hitungannya adalah 1 mitsqal =72 bulir gandum = 68,57 grain. Perbedaan ini dapat terjadi karena grain adalah satuan bulir gandum yang tidak dipotong kedua ujungnya atau perbedaan jenis gandum yang digunakan, karena selisihnya sedikit, yaitu: 72 – 68.57 = 3.43 bulir gandum
  3. Seperti sudah dikatakan di atas, perkataan Umar bin Abdul Aziz bahwa dirham buatan Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang, maka perbandingannya bukan 7/10 mitsqal tetapi 7/10.5 mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65), ini artinya 7 mitsqal = 10,5 x 2.975 gr = 1 troy ounce = 31.1 gram arti 1 Dirham adalah 3.11 gram atau 7/10 mitsqal atau 1/10 troy ounce

Dari sini diketahui bahwa berat 1 troy ounce sebanding dengan 7 mitsqal, maka satuanmitsqal adalah 31,103 gram (1 troy ounce) : 7 = 4.4432 gram (9999). Mengacu kepada satuan troy ounce maka nishab zakat emas (20 mitsqal) menjadi 4.4432 gram x 20 = 88,864 gram emas (9999).

Maka dengan prinsip waznu sab’ah (7/10), dapat ditemukan berat 1 Dirham (9999) adalah 31,103 gram (troy ounce) : 10 = 3.1103 gram.
Dengan mengacu kepada ukuran troy ounce dapat dihitung nishab zakat perak adalah 3.11 gram x 200 = 622 gram perak murni.

Perbandingan 7/10 terhadap Troy Ounce adalah 31,103/4,4432 = 7 Dinar (9999) dan 31,103/3,11= 10 Dirham (9999).

Perhitungan Berat Dirham Dan Troy Ounce Terhadap Nishab Zakat Perak
Dengan mengetahui berat mitsqal tersebut maka didapat berat 1 Dirham (9999) adalah 31,103 gram (troy ounce) : 10 = 3.1103 gram. Dengan mengacu kepada ukuran troy ounce maka nishab zakat perak adalah 3.11 gram x 200 = 622 gram perak murni.

Hasil penelitian mithqal yang dilakukan olehkami pada awalnya bukan untuk mencari persamaan mithqal dengan troy ounce, tapi dalam perjalanan ini kami menemukan referensi bahwa asal mula troy ounce itu sendiri adalah dari penimbangan bulir gandum.

Kesimpulan
Jadi berdasarkan hal tersebut di atas, maka kita dapat memahami beberapa hal mendasar dalam yang perlu diluruskan dalam timbangan berat dan kadar dinar dan dirham yang kini telah beredar. Dan hari ini juga kami memutuskan solusi yang jelas dan tegas secara syar’i yang harus diambil untuk menyikapi hal ini, karena timbangan berat dan kadar ini terkait dengan pelaksanaan pilar Islam yaitu pelaksanaan rukun zakat, pasar , perdagangan islam, baitul mal, paguyuban, qirad, syirkah dan hal muamalat lainnya secara langsung, maka dengan ijin Allah kami akan memaklumatkan koreksi standar baru dari dinar dan dirham Islam baik ukuran dan kadar yang sesuai dengan penjelasan di atas. (Tulisan ini akan terus kami perbaharui dan dipertajam untuk keperluan kembalinya dinar dan dirham (murni) dalam muamalah Islam, insyaallah)

Alhamdulillah, telah kami sampaikan hal ini denga tujuan ketakwaan kepada Allah, semoga ini menjadi jalan kita untuk mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat. Amin (Tulisan dan Penelitian: Abbas Firman, Islamic Mint Nusantara (IMN, 2000), Penelitian mitsqal, literatur koin, pencetakan, pengujian, metalurgi, kajian kitab klasik dan sejarah (IMN, 2000-2014).

———————————————————————————————

Footnote:
1 Allammah Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Madzhab, Bab Zakat Emas dan Perak.
2 Kitab Fiqih Hanafi, Bab Zakat Emas, halaman 119
3 Imam Asy-Syafi’I, Kitab Al-Umm, Volume 2, halaman 40
4 Ar-Raqim adalah nama mata uang emas, sebelum dinamakan menjadi dinar. Lihat Surah Al-Kahfi [18]: 9
5Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rasyad Al-Qurthubi (w.450 H), Bab Kitab Zakat Adz-Dzahab Wa Al-Waraq, Beirut-Libanon: Penerbit Darul Gharbi Al-Islami, Cet.2, tahun 1988, Jilid 2, halaman 355- 422
6 Nabi Idris adalah Nabi pertama yang menemukan pertambangan emas dan perak, memiliki kejujuran yang tinggi dalam mencetak mata uang Islam, yaitu Raqim dan Wariq, hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Maryam [19]: 56; Juga dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 85. Nabi Idris sebagai penemu Mata Uang pertama Islam, yaitu mata uang emas dan perak, diriwayatkan oleh Wahhab bin Munabbih dalam Kitab Qishohul Anbiya’, karya Ibnu Katsir.
7 Ibnu Katsir, Kitab Qishohul Anbiya’, tt
8Tentang Dinar, terdapat dalam QS. Ali Imran [3]: 75, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: 75. Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.
9 Tentang Dirham, Allah berfirman dalam surah Yusuf [12]: 20, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf
10Allammah Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Madzhab,, Bab Zakat Emas dan Perak. Dan Kitab Fiqih Hanafi, Bab Zakat Emas, halaman 119, juga bisa dibaca dalam Kitab Bidayatul Mujtahid Ibnu Ruysd dan Kitab Al-Umm Imam Syafi’I, Volume 2, halaman 39. Tentang Zakat Wariq, dan Al-Umm, Volume 2, tentang Zakat Emas, halaman 40
11 Muhammad, Quthub Ibrahim. 2003. Kebijakan Ekonomi Umar Bi Khaththab (As-Siyâsah al-Mâliyah li ‘Umar ibn al-Khaththâb). Terjemahan oleh Safarudin Saleh. Jakarta: Pustaka Azzam.
12 Bersumber pada kitab berikut ini: Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir; Tarikh Khulafa’, As-Suyuthi; Tarikh Bani Umayyah, Al-Mamlakah Su’udiyyah; Tarikh Islamy, Ibn Khaldun; Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu’ub, Penerbit PT.Bulan Bintang
13 Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa`, Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: AL-KAUTSAR, 2006. ISBN 979-592-175-4
14 Ahmed, Akbar S., Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Penerjemah: Nunding Ram dan Ramli Yakub. Jakarta: Erlangga, T.t; Ahmed, Akbar S. Rekonstruksi Sejarah Islam di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban. Penerjemah: Amru Nst. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.Armstrong, Karen. Sepintas Sejarah Islam. Penerjemah: Ira Puspito Rini. Surabaya: Ikon Teralitera, 2004. Hamur, Ahmad Ibrahim. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah. T.tp: T.pn, 2002. Himayah, Mahmud Ali. Ibnu Hazm: Biografi, Karya, dan Kajiannya Tentang Agama-agama. Jakarta: Lentera Basritama, 2001. Hitti, Philip K. History of The Arabs. Penerjemah: Cecep Lukman Ysin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010. Khalîfah, Muhammad Muhammad dan Zaki Ali Suwailim. Al-Adab al-‘Arabî wa Târikhuh. Kairo: al-Ma‘âhid al-Azhariyyah, 1977. Lubis, Nabilah. al-Mu‘ayyan fi al-Adab al-‘Araby wa Târikhu. Ciputat: Fakultas Adab dan Humaniora, 2005. Syalbî, Ahmad. Mausû‘ah al-Târikh al-Islâmî wa al-Hadhârah al-Islâmiyyah. Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1979. Sunanto, Musrifah. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Prenada Media, 2004. Urvoy, Dominique. Perjalan Intelektual Ibnu Rusyd. Penerjemah: Achmad Syahid . Surabaya: Risalah Gusti, 2000. Utsman, Ahmadi dan Cahya Buana. al-Adab al-‘Arabî fî al-‘Ashr al-‘Abbâsî wa al-Andalûsî wa ‘Ashr al-Inhithâth. Ciputat: Fakultas Adab dan Humaniora, 2010.
15 Leslie Peirce “The Imperial Harem: Women and sovereignty in the Ottoman empire and Morality Tales: Law and gender in the Ottoman court of Aintab”; Asy-Syalabi, Ali Muhammad (25 Desember 2010). Bangkit dan Runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyah. Pustaka Al-Kautsar. hlm. 403-425. Mufradi, Ali (25 Desember 2010). Kerajaan Utsmani dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. PT. Ichtiar Baru van Hoeve. hlm. 236-246. An-Nabhani, Taqiyyuddin (25 Desember 2010). Ad-Daulatul Islamiyyah . Darul Ummah. hlm. 139. Musthafa, Nadiyah Mahmud (25 Desember 1996). Al-’Ashrul ‘Utsmani minal Quwwatul Haimanah ila Bidayatul Mas’alatusy Syarqiyyah. Al-Ma’hadul ‘Alami lil Fikrul Islami. hlm. 94; Marjeh, Maufaq Bani (25 Desember 1996). Shahwatur Rajulul Maridh au as-Sulthan ‘Abdul Hamid ats-Tsani wal Khilafatul Islamiyyah. Darul Bayariq. hlm. 42; Harb, Muhammad (25 Desember 1998). Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II. Darul Qalam. hlm. 68. Noer, Deliar (25 Desember 1973). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES. hlm. 242; Suryanegara, Ahmad Mansur (25 Desember 1998). Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Mizan. hlm. 227.
16. KH.Moehammad Dahlan, Haul Sunan Ampel Ke-555,halaman 1;
17. Syekh Muhyiddin Khayyat dalam “Durusut Tarekh Al-Islamiy” Juz V, dan Catatan Jarji Zaidan dalam Tarekh Tamaddun Al-Iskamiy, Juz III
18. Menurut Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah, Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad Dimasyqi dalam Fiqih 4 Madzhab.
19. Pendapat bahwa dinar 4.25  (22 karat atau 91.7) atau tidak murni  merupakan pendapat yang lemah yang meyelisihi fikih zakat dan juga fakta sejarah muamalah Islam, dengan dalih teknis bahwa emas murni lunak dan katanya hanya dapat bertahan selama tiga tahun, sedangkan bukti sejarah dan arkeologis di dapatkan bahwa koin emas murni telah bertahan hingga 700 tahun. Untuk pembahasan lebih detail silahkan baca Penjelasan Tentang Mengapa Dinar Adalah 24 Karat Bukan 22 Karat.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s